Monday, March 9, 2015

Para Pengemban Ilmu

Menurut Adz Dzahabi, Orang berilmu menjaga lisannya karena Allah.
Jika takjub pada bicaranya dia Diam. Jika takjub pada diam nya dia Bicara.

Ucapan Asy-Syafi'i untuk renungan pagi ini, "Aku sangat ingin agar manusia memahami ilmu ini dan tak menyandarkannya padaku sedikitpun".

-bukan ilmu sejati, jika membuat mu merasa lebih tinggi. Bukan pemahaman hakiki, jika membuat mu enggan belajar lagi-

Tinggi nya cita, menyempitkan waktu santaimu.
Dalam nya Ilmu, meluaskan jalan baktimu.
Ketika ilmu yang di bincangkan lebih banyak dari pada yang di asup seharian; hampa dan ngilu menyesak ke kerongkongan.
Tabiat ilmu berlelah-lelah.
Sebab ia jalan tuk naik ke ketinggian; pendakian terjal, udaranya menipis, sesak dan payah.

Walau terlanjur dianggap berilmu, jangan malu mengatakan "aku tak tahu".
Dengan begitu Allah yang kan jadi Guru mu. 
Jagalah ilmu dengan amal. 
Jagalah amal dengan ikhlas. 
Jagalah ikhlas dengan istiqomah. 
Jagalah istiqomah dengan ihsan.
Kesalahan para MUDA ; mengira kecerdasan penentu pengalaman.
Kesalahan para TUA; mengira pengalaman penentu kecerdasan.


KCMM -Salim A Fillah-

-----------------------

Begitu juga motto Lajnah al Falah, keluarga kami, ingin menjadi keluarga pengemban, pencinta ilmu Allah

Wisuda TK yang Penuh Makna


Orang bijak mengatakan, dimana pun berada, ambillah yang baik dan tinggalkan yang buruk. Banyak pengalaman berharga yang bisa di ambil dari pendidikan jepang, walau ada juga yang membuat hati ketar ketir khawatir dengan budaya mereka yang bebas.

Salah satu pengalaman berharga yang sempat kami alami di Jepang, adalah saat mengikuti Upacara kelulusan TK atau bisa dibilang wisuda. Diluar dugaaan saya bagaimana biasanya acara anak-anak, wisuda TK ini berlangsung khidmat dan penuh haru, khas orang jepang : resmi, tepat waktu dan tanpa makan-makan, apalagi hiburan. Kebetulan anak saya sekolah di TK swasta, “Shiraume yochien” namanya. Dipilih karena alasan jarak yang dekat dan ada teman indonesia yang juga sekolah di sana.

Setelah kata sambutan dari Kepala sekolah dan pejabat-pejabat daerah, anak- anak dipanggil maju kedepan satu persatu, untuk menerima piagam kelulusan dari kepala sekolah. Teratur dan rapi sekali, anak-anak sudah mengerti kapan bersiap dan berdiri, kapan berbaris disamping dan kapan maju kedepan, Dengan dipandu guru/sensei dan tentu nya sudah dilatih beberapa hari sebelumnya. Kemudian setiap anak yang sudah menerima piagam akan dengan lantang menjawab “Arigatou gozaimasu =  Terima kasih” sambil membungkukkan badan khas orang Jepang kepada kepala sekolah kemudian kepada para hadirin.

Saya berkali kali berdecak kagum, “hey, mereka masih TK”, mereka yang keseharian nya lebih banyak bermain, bercanda dan tentu saja masih sering menangis. Tak percaya rasanya melihat anak-anak usia 6 tahun-an ini bisa bersikap serius dan resmi layaknya wisudawan universitas tapi tetap tidak meninggalkan ke-khas-an mereka sebagai anak. Patut diacungi jempol kebiasaan ini.

Acara juga di isi dengan arahan dan pesan kesan dari kepala sekolah dan pejabat pemerintah. Nasihat mereka ringan, khas gaya bahasa anak-anak tapi bermakna dalam dan membakar semangat berjuang. Anak anak tidak diminta untuk rajin belajar, jadi anak pintar dan berprestasi. Tapi justru di anjurkan untuk menikmati sekolah baru dan harus bersemangat.

Berikut petikan kata sambutan-nya, dalam gaya bahasa Indonesia kurang lebih seperti ini :

Kepala sekolah dengan tenang berkata :
“Waah, kalian mau lulus ya, senang ngga di Shiraume? Anak-anak kompak menjawab  ”senang”. Lalu bertanya lagi “siapa yang mau tetap disini?” tidak ada yang menyahut , lalu sambil pura-pura sedih beliau berkata “wah saya bakalan sabishi (kangen) dong”

“Kalian akan memasuki dunia baru di shougakko (SD), mungkin akan ada yang menangis, tidak mau main dan lain-lain, tapi itu wajar. Berjuanglah di dunia baru itu sambil menikmati hari baru itu, semua hari adalah hari-hari tanoshi (menyenangkan).

”Di shougakko, kalian akan punya teman baru, belajar bersama sama,  campingbersama-sama, berenang, dan saya minta kalian untuk bersenang-senang saat belajar, siap?” Serontak anak-anak menjawab “Haiiikkk!”

“Nanti di SD kalian tunjukkan betapa tekunnya alumni Shiraume, perlihatkan bahwa kalian orang yang gemar ganbatte (semangat berjuang)”

“Jikalau kalian punya waktu, sekali-sekali mainlah kesini, temui adik-adik kalian, mereka akan senang bisa lihat kakak-kakaknya kembali untuk mereka”

Anak anak-pun lebih dianggap sahabat oleh sensei, hubungan guru-murid cair tapi tetap dalam batas sopan. Selama ini saya sering melihat sensei-murid bercanda, bergelayutan tanpa segan. Dan hari itu, saat menunggu acara dimulai, didalam kelas Sensei berkata :
“Saya sangat-sangat sedih berpisah dengan kalian semua, tapi memiliki kalian sebagai sahabat saya, benar-benar menyenangkan buat saya, terima kasih selamanya” sambil menyeka air mata berkali-kali. Dan anak-anak pun berebutan memeluk Sensei yang selama setahun ini membersamai mereka.

Tapi yang lebih berkesan justru ketika pembacaan kesan dan pesan dari perwakilan murid, 2 orang.
“Kami jadi begini (murid baik) karena Sensei2 kami, selamanya kami ingin berterima kasih”
“Kami sering membuat repot, namun sensei-tachi tidak marah, kami berterima kasih”

Begitulah, kata kata mereka mengalir biasa tapi sarat makna

http://edukasi.kompasiana.com/2014/04/20/wisuda-tk-di-jepang-yang-penuh-makna-649562.html

Ramadhannya si Ichi Nensei


Rasa nya menjadi kelas 1 SD telah merubah banyak hal pada anak pertama saya ini. Seperti sikap nya sebagai orang asing dan satu-satu nya muslim di koudo shougakkou. Dimulai dari kerelaan hatinya untuk konsisten berjilbab,pun saat berenang. Berbesar hati ketika harus  makan bento full dari rumah, kemudian ketegasannya saat ditawarkan makanan oleh teman dan senseinya.

Begitu juga Ramadhan tahun ini, umur nya 6 tahun. Saya tidak memaksanya untuk puasa full di weekdays, karena selain musim panas menyengat serta lama (16,5 jam) kegiatan SD disini banyak aktivitas outdoor nya. Kalau weekend, insyaAllah sampai magrib, walau sahur molor :)

Ada 2 kejadian baru-baru ini yang membuat saya tercenung dan terharu.

Kejadian pertama adalah saat dia bertanya sampai kapan kita puasa, sampai tanggal berapa. Saya pikir karena dia mengeluh, puasa kok lama sekali? hehe. Belakangan saya baru tahu setelah melihat buku renrakuchou (buku pengantar orang tua-murid), ternyata si F cerita ke senseinya kalau sedang puasa, kemudian sensei nya bertanya sampai kapan. karena saat itu belum tahu jawabannya, jadi bertanya dulu sama ibu nya dan jawaban nya di tulis sendiri dibuku renrakuchou (gambar bawah kiri)  T_T.
ibu nya memang ga kepikiran ngasih tau sensei, hiks.

sensei pun merespon : taihen desu ne (berat yaa).
gapapa ya nak, taihen taihen di dunia, tanoshi tanoshi di akhirat, insyaAllah ..Aamiin

Kejadian kedua, saat 2 orang temannya datang kerumah, menjemput untuk membuat PR dan bermain bersama. Nah salah satu kebiasaan anak-anak jepang, saat  bermain terutama musim panas adalah membawa suito (botol minum). terjadilah dialog berikut

Y-chan : fahira, Suito wa? (botol minumnya mana?)
F : ee, bla bla asa kara, yoru made. mizu nomanai, oyatsu tabenai bla bla (intinya jelasin kalau sedang puasa, jadi tidak makan minum dari pagi sampai sore/malam)
Y dan A chan : eee, sokka,

Alhamdulillah, walau tidak selalu full, setidaknya sudah memahami hakikat puasa dan bisa menjelaskan ke teman dan sensei mengenai puasa ini,

Dan minggu lalu kami mendapat jadwal untuk bertemu langsung dengan Kosuji-sensei (guru kelas Fahira). Beliau sangat senang dengan cara Fahira beradaptasi dengan lingkungan sekolah. Walaupun diawal banyak hal yang dirasa aneh oleh teman-temannya, misalnya cara berpakaian, makan bento dari rumah, cara berganti pakaian yang harus di ruangan tersendiri, juga pakaian renangnya, namun Fahira tampak easy going dengan keunikannya dan teman-teman kini sudah sangat paham dan menerimanya apa adanya. bahkan banyak yang kagum dengan puasa Fahira dan memberi semangat.
Sensei mengatakan bahwa hari ini Fahira sudah benar-benar menyatu dan menjadi bagian tidak terpisahkan dari teman-teman secara kolektif. Apapun keunikan-keunikan baru Fahira yang belum terungkap, sudah bisa dimengerti sepenuhnnya oleh sekolah dan teman-teman.


Semoga Allah selalu menjaga Mu nak, tantanganmu dimasa depan akan sangat berat, fitnah dan ancaman pada agamamu akan semakin membayangi..
Doa kami, walau tak lama umur ini membersamaimu, semoga Akidah mu tetap lurus sampai maut menjemput, Aamiin


رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ
“Wahai Rabbku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan salat, wahai Rabb kami, perkenankanlah doaku.” (Ibrahim: 40)

Time-Capsule Fahira




Menjelang wisuda TK Fahira akhir Maret 2014 lalu, ada edaran dari TK untuk anak-anak menggambar bagaimana keadaan mereka saat mereka berumur 20 tahun. Setelah menggambar, dengan sedikit warna-warni krayon, Fahira lalu menyerahkannya ke Yuki-sensei (guru TK kelas Fahira) dan dikumpulkan sekelas untuk dimasukkan ke dalam 'Time Capsule'.
Kita mengira awalnya ini adalah sekedar lucu-lucuan saja biar wisuda makin seru.
Lalu minggu lalu kami terima album kenang-kenangan TK Adachi-Shiraume, TK-nya Fahira. Selain berisi banyak sekali foto-foto aktivitas Fahira di TK, ternyata ada ajakan sebagai berikut:

"Jadwal Membuka Time Capsule, harap kumpul di TK Adachi-Shiraume pada jam 10 pagi, hari Sabtu, 15 Januari 2028"

MashaaAllah, anak-anak ini diajak untuk memvisualisasikan mimpi-mimpi yang mereka ingin mereka wujudkan pada umur 20 tahun melalui gambar yang mereka buat sendiri saat berumur 6 tahun.
Lalu mereka diminta berkumpul kembali pada jadwal yang sangat detail di masa depan tahun 2028, tepat saat mereka semua berumur 20 tahun. Disaat itu, mereka (inshaaAllah) akan membandingkan mimpi mereka sebagai anak kecil, dengan pencapaian-pencapaian mereka sebagai remaja.
Saat itu (inshaaAllah), Fahira akan bertukar banyak sekali cerita dengan teman-teman lamanya.
Berbagi kembali kisah-kisah seru ketika mereka belajar berenang pertama kali.
Mengenang-kenang saat mereka belajar beraneka-ragam bunga dan buah-buahan saat field trip.
Akan ada tawa, namun banyak tangis haru.
Bahwa mereka pernah menjadi bagian dari Adachi-Shiraume dan merasakan langsung pendidikan khas ala Jepang di masa kecil.

Semoga Allah kasih saya dan Yayangda Lusiana Sofyan umur yang cukup untuk mengantar Fahira kembali membuka Time Capsule di tahun 2028.
Dan semoga Allah menjadikan diri kita lebih baik dari apa yang pernah kita mimpikan, Aamiin

Abu fahira

SD di Jepang : Sehat, Mandiri dan Ceria


Usia 6 Tahun mempunyai banyak makna di Negeri Sakura. Bisa dikatakan merupakan batu loncatan pertama dari kanak-kanak ke fase baru yang lebih menantang, dengan tingkat kewajiban serta kemandirian yang lebih tinggi. Seorang anak boleh melanjutkan ke sekolah dasar (SD) atau shougakkou jika pada tanggal 1 April usianya sudah 6 tahun. Peraturan terkait batas umur ini ketat sekali, kurang satu hari saja tidak diperbolehkan untuk masuk.
Siswa kelas satu SD disebut ichi-nensei (murid tahun pertama). Ichi-nensei merupakan suatu “pangkat” yang istimewa. Mereka mulai memakai randoseru, sejenis tas ransel khusus khas Jepang yang harga normal berkisar 50-80 ribu yen (5-8 juta rupiah). Budaya di Jepang, nenek-kakeklah yang membelikan sebagai hadiah. Memang terbilang mahal, tapi umumnya mempunyai kualitas yang bagus dan garansi selama 6 tahun. Jadi merupakan hal yang sangat wajar jika ransel anak SD di Jepang selama 6 tahun tidak pernah ganti. Bahkan, saat mereka lulus pun kualitas tas ransel ini masih bagus, sehingga tak jarang masih bisa di jual di recycle shop.

sumber foto randoseru

Seorang anak SD akan berangkat sekolah sendiri tanpa diantar-jemput orang tua, tetapi mereka harus bersama-sama siswa lain yang rumahnya berdekatan. Anak-anak dikelompokkan menjadi grup dan sekolah telah menentukan tempat bertemunya mereka dipagi hari. Yang menjadi ketua rombongan adalah anak kelas tertinggi yang ada dalam grup tersebut, biasanya siswa kelas 6. Sekitar 2 minggu sebelum hari pertama sekolah, Anak saya sudah mendapat kartu pos dari siswa kelas 6 yang berisi ajakan berangkat sekolah bersama dan tertera jam serta tempat dimana harus kumpul, Menurut saya ini termasuk budaya baik, yaitu terencana dan walau masih kecil sudah terbiasa mengirim pos.

1412335579666789102
Salah satu spot, tempat kumpul untuk kemudian bersama-sama ke Sekolah dalam barisan yang rapi.

Untuk keamanan, anak SD diwajibkan selalu membawa ‘bouhan bozai’, yaitu sebuah alat sejenis alarm gantung yang jika ditekan akan mengeluarkan bunyi keras. Anak-anak akan mengaktifkan alarm ini jika ada sesuatu atau seseorang yang mencurigakan atau membahayakan. Jika ada dewasa yang mendengar suara ini, maka diharapkan segera menuju sumber suara dan membantu, atau jika perlu menghubungi pihak berwajib. Khusus untuk anak kelas 1, selama setahun pertama mereka wajib menggunakan topi dan cover kuning pada tas randoserunya (bisa dilihat difoto paling atas), yang menandakan bahwa anak ini masih harus lebih di perhatikan (anak baru).


Alarm keamanan atau bohan bouzai, sumber foto di sini

Tingkatan pendidikan di Jepang sama dengan di Indonesia yaitu enam tahun SD, tiga tahun SMP, tiga tahun SMA dan Perguruan Tinggi. Pendidikan dasar (SD-SMP) tidak mengenal ujian kenaikan kelas, jadi siswa yang telah menyelesaikan proses belajar di kelas satu secara otomatis akan naik ke kelas dua, demikian seterusnya. Ujian akhir kelulusan juga tidak ada, sehingga siswa yang telah menyelesaikan studinya di tingkat SD dapat langsung mendaftar ke SMP dengan sistem rayon, kecuali jika ingin mendaftar sekolah swasta. O iya, sekolah negeri dari pedesaan sampai kota metropolitan seperti tokyo memiliki standar kualitas yang sama, dan gratis.

Menurut Akeno Yuki dalam artikelnya berjudul ‘Mengintip Kurikulum Pendidikan di Jepang”, sebenarnya sifat dan karakteristik kurikulum di Jepang hampir sama dengan kurikulum SD di Indonesia. Hanya yang membedakan adalah pada mata pelajaran kebiasaan hidup yang umumnya diajarkan di kelas 1 dan 2. Tujuan utama diajarkan mata pelajaran ini adalah untuk mengenalkan dan membiasakan anak-anak pada pola hidup mandiri. Anak terbiasa membereskan peralatan belajar sendiri, merapihkan kelas, membersihkan toilet sendiri (tidak ada petugas kebersihan khusus di sekolah) dan bergiliran menjadi penyedia makan siang teman-teman (tentang makan di sekolah sudah saya tulis di sini

Sekolah dasar di Jepang lebih mendahulukan memperkenalkan tata cara kehidupan sehari-hari. Kegiatan akademik, umumnya berlangsung dari jam 8 pagi sampai jam 3 sore. Tetapi biasanya ada pelajaran tambahan untuk siswa kelas 4 keatas. Pelajaran utama seperti bahasa Jepang dan berhitung mempunyai porsi yang lebih dibanding pelajaran lainnya. Sedangkan pelajaran moral diajarkan tidak secara khusus dalam mata pelajaran tertentu, tetapi diajarkan oleh wali kelas dalam cerita atau diintegrasikan melalui pelajaran lain. Para murid juga disibukkan dengan mata pelajaran musik dan menggambar, jadi wajar saja anak Jepang dari kecil, kemampuan menggambar dan bermain musik rata-rata sudah bagus (bukan hanya bisa menggambar 2 gunung legendaris seperti saya hehe). 

Begitu juga dengan kegiatan olahraga, porsinya sangat besar yaitu hampir setiap hari. Mungkin ini juga yang membuat anak Jepang jarang yang obesitas, selain pola makan yang sehat. Dimusim panas, olahraga lebih sering berupa berenang, juga hampir setiap hari. Rata-rata SD di jepang mempunyai kolam renang sendiri.

Lapangan olahraga yang luas
Ruang kelas tidak kaku, tidak ada foto presiden atau pejabat lainnya. Dinding dalam maupun luar kelas hampir semua ditempel dengan hasil karya anak-anak, daftar piket makan, berbagai kosa kata bahasa jepang, Juga ada perpustakaan mini dan beberapa tumbuhan hidup untuk sarana belajar.
Suasana dalam kelas, posisi kursi-meja bisa di ubah, semua menghadap kedepan atau berkelompok

Yang tak kalah menyenangkan, kegiatan belajar tidak hanya di dalam kelas. Secara berkala mereka mengunjungi tempat-tempat bersejarah dan lahan pertanian atau perkebunan untuk belajar memetik teh, jeruk, menggali umbi-umbian, bahkan belajar menanam padi di sawah (biasanya di daerah luar Tokyo). Anak saya sampai hafal banyak jenis serangga dan tak jijik atau takut memegangnya. 

Dilain waktu, siswa secara berkelompok diajarkan cara menumpang kereta (densha) untuk melatih kemandirian. Selain itu ada kegiatan wawancara dengan orang-orang tertentu sebagai narasumber, bisa tetangga atau orang-orang yang lewat di jalan. Saya pernah melihat anak sekolah yang sedang mewancarai turis. Semua percaya diri, tak terlihat malu-malu dan pihak yang diwawancarai pun menjawab dengan serius, walau pewawancara hanyalah anak kecil, Anak-anak ini dari kelas 1 sudah dibiasakan untuk “berbicara”, baik di tempat duduk maupun maju ke depan. Ini adalah hal yang saya catat baik-baik ketika ada kegiatan kunjungan orang tua ke Sekolah. 

Ada sesi yang mana sensei menyebutkan sesuatu atau menanyakan sesuatu dan setelahnya hampir semua anak menunjuk tangan, tanda ingin menjawab. Setiap ada pertanyaan, selalu begitu. Semua berteriak : “haaik” seraya menunjuk tangan. Tidak penting jawabannya benar atau tidak. Sungguh membuat saya berdecak kagum, teringat kala sekolah dulu, jarang sekali saya dan teman-teman sekelas berani menjawab, Bahkan lebih sering menunduk dalam-dalam agar tidak ditunjuk oleh guru. Dilain waktu siswa juga mendapat tugas membuat penelitian-penelitian kecil untuk dipresentasikan di depan kelas.
1412335686252489797
14123357201155229976
Tugas liburan pun umumnya yang merangsang kreativitas dan tanggung jawab, misalnya merawat tanaman bunga “Asagao” yang harus ditulis perkembangannya, berkreasi dengan barang bekas, meminjam dan membaca buku di perpustakaan dan banyak kegiatan seru lainnya.

Intinya kegiatan bermain sambil belajar di Jepang ini terhimpun dalam tiga kata: Sehat, Mandiri dan Ceria.

Segarnya Kerja Bakti di Danchi




Danchi adalah perumahan subsidi milik pemerintah di Jepang, mungkin sejenis rusun kalau di Indonesia. Tetapi kualitasnya bagus, tak kalah dengan apartemen atau mansion swasta.
Target utama adalah para lansia, pensiunan, keluarga besar (anak lebih dari 2), yang pendapatannya dibawah rata-rata. Termasuk penerima beasiswa seperti kami hehe.


Di Danchi inilah kami juga belajar bagaimana berinteraksi dan sosialisasi, suasana dan keadaannya sangat berbeda dengan Tokyo pada umumnya, yang agak terkesan asosial. Di sini masih terbiasa basa-basi, sapaan hangat dipagi hari, ada acara kebersamaan, penyambutan anak SD baru, morning coffee di hari Minggu dan lainnya.

Nah, karena tidak ada jasa cleaning service, sebulan sekali diadakan kerja bakti yang mewajibkan masing-masing keluarga mengirimkan wakilnya. Biasanya yang turun adalah suami, tapi kebetulan hari ini bapak nya anak-anak sedang ada seminar, jadilah yang turun saya dan duo F. 

Di tempat berkumpul, sudah tersedia alat-alat kebersihan lengkap. Dimulai dari sapu, serokan, pemotong rumput, plastik sampah sampai sarung tangan kerja. Begitulah negara ini, persiapan untuk apapun hampir selalu sempurna, semua dimudahkan. Masing-masing lantai sudah diberi kavling tugas, daerah atau bagian mana dari lingkungan danchi yang harus di bersihkan

Yang unik, anak-anak diminta untuk turut berpartisipasi, di minta memakai sarung tangan dan diberi sapu, termasuk Fahri (2 thn). Tentu saja mereka senang, "cara baru bermain" dan bangga pastinya, sudah "di anggap" dan diberi kepercayaan layaknya dewasa. Apalagi setelah selesai di beri hadiah pula, masing-masing 1 botol juz coconut mix Kagome 720 ml! dingin dan segar (orang tua ga dikasih hehe, kodomo dake -anak-anak saja-!) 

Jadi berapapun umurnya, semua terjun. Memang mayoritas adalah para lansia, yang memang penghuni terbanyak di Danchi :).
Kegiatan ini ditutup dengan, absen. berkumpul kembali, dipanggil satu-satu berdasarkan lantai dan nomor rumah. Kemudian bagi yang mau, disediakan kopi gratis dan fasilitas karaoke di ruang bersama (morning cafe). 

Berkreasi dengan Home Made PlayDough : Membuat Pisang, Strawberry dan Mawar (Step by step)


Sebagai orang tua tentunya kita harus punya banyak cadangan kreasi di Rumah, apalagi saat hujan atau berbagai keadaan yang membuat anak-anak tidak bisa bermain diluar. Salah satunya dengan bermain playdough atau lilin (Indonesia) atau nendo (Jepang). Anak-anak bisa bertahan berjam-jam bermain ini dan insyaAllah bisa merangsang kecerdasan dan kreativitas anak-anak :)

Berawal dari tayangan edukatif di NHK berjudul 'Nendo onee-san', saya pun tertarik mencoba. Ternyata dengan playdough bisa banyak sekali benda-benda lucu yang bisa kita buat, contohnya berbagai buah dan mawar cantik ini. Cocok untuk anak-anak 5 tahun ke atas, yang sudah bisa bekerja dalam 'detail'. Untuk balita bisa dicoba project lain yang lebih mudah :).

O iya, playdough-nya pun buat sendiri, resep nya ada disini ya^^

Yuk, mari kita coba!

Pisang

1. Siapkan 1 batang kecil nendo kuning untuk bagian dalam buah dan 4 nendo putih untuk kulit pisang
2. Tipiskan 4 nendo putih (calon kulit) dengan ditekan mengunakan jari
3. Tempelkan nendo putih yang sudah ditipiskan ke nendo kuning satu persatu
4. Bentuk seolah-olah buah pisang yang sudah dibuka sebagian
5. Beri warna kuning pada bagian luar kulit pisang, bisa menggunakan cat air atau pewarna makanan yang kental 



Strawberry


1. Siapkan Nendo warna pink/merah untuk bagian buah dan 4-5 bagian kecil warna hijau untuk daun.
2. Tipiskan nendo hijau, kemudian tempelkan satu persatu ke bagian pink seperti digambar 2
3. Tempel semua bagian daun
4. Beri corak titik-titik hitam menggunakan pulpen/spidol :)


Mawar


1. Sediakan 1 buah nendo putih bulat agak lonjong untuk bagian tengah bunga/putik, beberapa helai nendo pink untuk kelopak bunga (jumlah sesuai keinginan) danbeberapa helai nendo hijau untuk daun.
2-4 Tempel nendo pink ke nendo putih satu persatu sampai habis.
5. Kemudian diikuti dengan nendo hijau/daun sesuai keinginan


dan Kakak berhasil membuat jeruk dengan inisiatif sendiri :))


Semua senang termasuk Ibu nya :p


.