Monday, January 11, 2016

Pelajaran Gizi di Sekolah Jepang




Di Jepang para murid disediakan makan siang di Sekolah dari Taman Kanak-kanak (TK) hingga Sekolah Menengah. Tidak disediakan kantin dan tidak dibenarkan untuk jajan sembarangan diluar. Budaya makan disekolah ini sudah dimulai sejak pasca perang dunia ke dua dan berlanjut hingga saat ini. 



Walau anak saya full membawa bentou dari rumah, karena faktor kehalalan. Saya juga mendapat banyak pelajaran mengenai kebiasaan positif ini. Dimulai dari wawancara setiap orang tua mengenai makanan yang bisa memicu alergi atau tidak bisa dimakan oleh anak karena alasan lain, kemudian penjelasan mengenai cara masak, menu yang variatif dan penyediaan susu tiap hari.



Untuk TK biasanya pengadaan makanan berupa bento dengan menggunakan wadah makan lucu. Untuk pengadaan bentou ini sekolah bekerja sama dengan perusahaan yang khusus menyediakan katering bento anak TK. bisa dilihat di sini


Sedangkan SD hingga SMP dan sebagian SMA pengadaan makanan dilakukan disekolah masing-masing, dengan panduan guru ahli gizi dan bantuan beberapa tukang masak profesional. Ketika menyusun menu, ahli gizi ini sangat memerhatikan nilai dan komposisi gizi, serta menyeimbangkan pemberian nasi/tepung/kentang, ikan dan sayur-sayuran serta buah, agar anak-anak pada usia pertumbuhan mendapat asupan nutrisi yang optimal. Menu makan siang harus memenuhi 1/3 kebutuhan nutrisi harian anak, yaitu sekitar 430-450 kilokalori untuk bento TK, 600-700 kilokalori untuk anak SD. Menu harian ini juga diharapkan mencakup 1/2 kebutuhan kalsium dan dan 33-40% kebutuhan vitamin dan mineral harian. Kecukupan kalsium menjadi perhatian khusus, sebab ada kecenderungan kurang asupan kalsium di kalangan anak-anak. Oleh karena itu, untuk memenuhi kebutuhan kalsium, sekotak susu hampir selalu dimasukkan ke dalam menu makan siang di sekolah. 



Berikut 6 panduan menyusun menu makan siang anak di Sekolah Jepang 





1. Harus bervariasi. Jenis hidangan berganti-ganti setiap hari, agar anak mendapat pengalaman makan yang bermacam-macam, tidak bosan dan mendapat nutrisi lengkap. Menu makan siang juga memasukkan sayur dan buah-buah yang sedang musim saat itu.

2. Buatan sendiri, lezat dan aman. Umumnya saat masak menggunakan kaldu dari tulang ayam atau sapi, bukan kaldu bubuk atau penyedap rasa. Serta tidak membubuhkan terlalu banyak gula atau garam ke masakan. Anak-anak dibiasakan pada rasa alami makanan, keuntungan memasak sendiri adalah bahan makanan lebih terkontrol, sehingga hidangan lebih sehat dan aman. Untuk alasan keamanan pula, makanan di sekolah selalu dimasak pada hari yang sama ketika bahan makanan dibeli. Dan, bebas dari makanan mentah, seperti sushi dan sashimi.

3. Menghindari penyakit degeneratif. Berbagai penyakit gaya hidup, menyerang sejak usia dini. Para ahli kesehatan di Jepang meyakini, jika anak terlalu banyak dan terlalu sering makan sumber lemak hewani (daging sapi, kambing, babi, ayam, dan lain-lain), kadar kolesterol di tubuh meningkat, menambah risiko penebalan pembuluh darah. Meski ikan termasuk hewan, namun kadar kolesterolnya rendah, berkat kandungan DHA (Docosahexaenoic acid) dan EPA (Eicosapentaenoic acid). 

DHA berfungsi melancarkan aliran darah dan meningkatkan aktivitas otak. EPA menetralisir lemak dan melancarkan aliran darah. Itu sebabnya anak-anak di Jepang diwajibkan banyak makan ikan, terutama ikan perairan dalam atau blue fish seperti sardin, makarel, tuna, salmon dan lain-lain. 

Konsumsi garam dan gula juga dibatasi untuk menghindari penyakit tekanan darah tinggi dan diabetes. Sebaliknya, sumber serat seperti rumput laut, jamur, sayuran dan polong-polongan, dipastikan selalu ada dalam menu makan siang.   

4. Tekstur mudah dikunyah. Ini untuk melatih keterampilan mengunyah anak-anak. Mengunyah dengan benar, membantu pertumbuhan dagu dan gigi-geligi, mencegah gigi berlubang, mencegah makan berlebihan dan obesitas. Juga, diyakini dapat menstimulasi dan membantu otak bekerja lebih baik.

5. Menghargai budaya makan tradisional. Bangsa Jepang kaya akan makanan tradisional yang sehat, yang telah ribuan tahun diwariskan dari generasi ke generasi, seperti okara (sejenis polong-polongan), rumput laut jenis konyaku, hijiki,  dan ikan kecil seperti bonito kering. 

6. Menikmati makan siang dengan sopan. Tidak sekadar makan, makan di sekolah juga mengajarkan anak mematuhi tata tertib makan atau table manner, agar tidak mengganggu anak lain

Salah satu cara membuat anak tertarik pada makanan adalah dengan melibatkan mereka dalam proses menyiapkan acara makan tersebut. Itu sebabnya, sekolah di Jepang menugaskan anak-anak bergiliran dibagi menjadi beberapa kelompok menjadi school lunch duty. Ada kelompok yang bertugas menyiapkan dan mengelap meja, menyiapkan piring dan mangkuk, dan kelompok favorit adalah yang  berseragam mirip koki dan bertugas mendistribusikan makanan untuk teman-temannya. Untuk anak saya pengalaman dan kepercayaan ini sungguh meyenangkan :)






sumber


http://www.nier.go.jp/English/EducationInJapan/Education_in_Japan/Education_in_Japan_files/201303SLP.pdf


http://www.ayahbunda.co.id/Artikel/gizi.kesehatan/balita/6.makan.siang.sehat.ala.jepang/001/001/1666/2

Monday, January 4, 2016

Mengenal Istilah Dosis Lebih Tepat

Sering sekali kita berbicara atau mendengar tentang dosis. Dalam hal ini paling sering yang berkaitan dengan obat. Tetapi terkadang pengertian yang berkembang di masyarakat kurang tepat. Misalnya :
Anggapan bahwa dokter luar negeri kalau memberi obat, dosisnya rendah sehingga aman. Sedangkan dokter Indonesia dianggap sering memberi obat dengan dosis tinggi. Akibatnya tak jarang ada orang Indonesia berdomisili di luar negeri yang meminta ransum obat dari dokter Jepang ketika hendak berkunjung ke Indonesia hanya untuk persiapan kalau nanti sakit di Indonesia, karena kekhawatiran kelebihan dosis jika berobat dengan dokter Indonesia.
Ukuran obat yang kecil dan imut bermakna dosis kecil.
Resep yang diberi dokter spesialis dosisnya lebih tinggi daripada dokter umum.

Benarkah demikian?

Sebenarnya apakah pengertian dosis itu?

Apakah ukuran dan bentuk obat menentukan?

Apakah dokter umum dan spesialis memiliki takaran dosis yang berbeda, lalu bagaimana jika beda negara?

Mari kita cermati bersama-sama, agar pasien dan dokter memiliki pemahaman yang sama mengenai istilah 'dosis' ini.

Definisi dosis menurut kamus besar bahasa Indonesia atau KBBI adalah :

(1) Takaran obat untuk sekali pakai (dimakan, diminum, disuntikkan, dan lain sebagainya) dalam jangka waktu tertentu.

Contohnya, pasien itu pingsan karena menelan pil melebihi dosis yang ditentukan oleh dokter;

(2) Ukuran pengobatan yang harus diberikan untuk jangka waktu tertentu (contoh radiasi atau penyinaran pada daerah atau bagian tubuh tertentu);

(3) Definisi dalam fisika jumlah energi atau tenaga yang diberikan oleh zarah pengion kepada suatu satuan massa bahan yang disinari atau diradiasi pada tempat yang diselidiki atau diminati.

Dosis adalah takaran atau ukuran suatu obat secara individual perkali atau perhari. Dengan demikian, dosis suatu obat yang sejenis haruslah tetap sama, baik dokter umum ataupun dokter spesialis yang mengobati di desa, pelosok Indonesia ataupun megapolitan seperti Tokyo.

Sehingga pernyataan bahwa dokter Indonesia sering memberi 'dosis tinggi' dapat dikatakan kurang tepat. Jika pasien diberikan dosis tinggi atau dalam hal ini dosis berlebih dari seharusnya, maka akan berbahaya bagi pasien dan tentunya dokter pemberi resep pun akan mendapat sanksi kode etik. Hal ini sering didengar dengan istilah over dosis.

Agar lebih jelas mari memahami dengan menggunakan contoh, misalnya paracetamol, salah satu obat yang paling sering dikonsumsi dengan nama dagang P*nadol, D*colgen, S*nmol dll. Dosisnya adalah 10-15mg/kg/kali. Untuk seorang anak dengan berat badan 10 kg, anak tersebut membutuhkan paracetamol 100-150 mg sekali minum agar mendapat efek yang diharapkan misalnya sebagai antipiretik atau penurun demam.

Jika kita menganggap bahwa paracetamol harus diberikan dalam dosis kecil agar aman, misalnya hanya 50 mg, tentunya efek yang diharapkan tidak akan maksimal, bahkan tidak memberikan efek apa- apa. Apalagi jika pada kasus si anak yang sakit tetapi ibunya yang meminum obat, dengan harapan obat tersebut tersalurkan melalui ASI. Begitu juga sebaliknya jika seorang dokter memberi dosis jauh diatas 150 mg, kemungkinan akan memberi efek samping. Yang harus diyakini, seorang dokter tentu tidak akan secara sengaja membahayakan pasiennya.

Lalu bagaimana untuk kasus "beda dokter" atau bahkan "beda negara"?
Jika kita lihat definisi di atas seharusnya dosis paracetamol tetap sama.

Hal yang terkadang tidak diketahui oleh masyarakat umum adalah bahwa setiap obat memiliki batas dosis tersendiri yang setiap dokter dapat memberikan obat dengan jumlah dosis berbeda tetapi masih dalam batas yang ditetapkan. Jumlah dosis ini disesuaikan dengan jenis penyakit atau tingkat keparahannya dan juga kondisi tubuh pasien yang terkadang rentan pada efek samping suatu obat tertentu. Tidak semata-mata karena dokter luar negeri, lalu memberi dosis kecil atau karena dokter spesialis lalu memberi dosis besar.

Kedua, benarkah obat imut-imut berarti dosis kecil? Tidak terlalu memberikan efek, baik efek pengobatan ataupun efek samping? Salah satu obat imut yang pernah penulis lihat adalah kodein, efek yang bisa diharapkan adalah antitusif (menekan batuk). Dibanding obat biasa, kodein ini sediaannya kecil sekali, tetapi meskipun demikian, jika penulis ingin membeli obat ini di apotik tidak mudah dan harus memperlihatkan kartu Identitas sebagai seorang dokter. Mengapa? Karena kodein ini termasuk obat dengan lingkaran merah,artinya sejenis obat keras yang memiliki efek pengobatan yang tinggi meskipun bentuknya mini. Jadi bisa ditarik kesimpulan ukuran obat tidak berimbang dengan dosis atau takaran suatu obat.

Semoga bermanfaat. :)

dimuat di fahima.org
Referensi: http://kamusbahasaindonesia.org/dosis#ixzz2TJlL84T5
Sumber gambar : http://info-kesehatan.net

Sunday, June 28, 2015

Back For Good


Setelah 4 tahun lebih menetap di Tokyo, Jepang, tibalah saatnya kami sekeluarga harus kembali ke negeri kelahiran. Pastinya tak mudah. Waktu itu datang baru bertiga dan hanya dengan modal keyakinan bahwa akan bisa bertahan di negeri yang huruf tulisan, bahasa, kultur dan musim yang benar benar berbeda. Intinya, dulu modal 'pede aja lah' , lain lain belakangan, hehe.

Ternyata benar kata imam Syafii 'merantaulah, kau kan dapati pengganti dari orang-orang yang kau tinggalkan, kerabat dan kawan'. Baru beberapa hari datang dan belum puas berbengong-bengong ria dengan lingkungan sekitar sudah ada sahabat sesama Indonesia yang datang kerumah, kala itu baru kenal padahal :). Diajak ke pengajian rutin ibu-ibu Ayase dan ikut serta dalam pembentukan TPA Hikari, yang kisahnya bisa dibaca disini. Benar-benar serasa hidup dinegeri sendiri, ternyata di Tokyo, khususnya Ayase orang Indonesianya ramai dan baik-baik. Alhamdulillah.

Sehingga semua urusan menjadi mudah. Ditunjukkan supermarket Belx yang murah meriah, terutama hari selasa (serba 88 yen), diberi banyak kenalan, jadi barang-barang rumah tangga kebanyakan turunan, dibantu mengurus sekolah Fahira, ditemani ketika diawal harus ke klinik dan puncaknya ketika melahirkan Fahri, saya yang panik karena tekanan darah melonjak tinggi dan harus operasi segera, cuma disuruh tenang dan duduk manis, karena yang lain sudah ada yang mengurus, termasuk masalah makanan Fahira dan Abi serta urusan TK. Begitu juga ketika Fahri (ketika usia 1,5 bulan harus dirawat di RS karena insfeksi RSV), doa, bantuan dan kunjungan tak berhenti. Masyaa Allah.

Selain itu Alhamdulillah tak perlu waktu lama, begitu datang ke Jepang langsung dapat kelompok melingkar penstabil jiwa alias tarbiyah :). Kemudian juga  ikut merasakan semangat berorganisasi dan kepanitiaan dengan bergabung di Fahima dan KMII, yang terasa ada yang kurang kalau dalam seminggu tidak ada rapat online, hehe. Masih terbayang serunya persiapan-persiapan untuk acara-acara di Sekolah Republik Indonesia Tokyo (SRIT), datang lebih pagi dengan bawaan yang super banyak dan dijalan, dalam kereta atau bus masih sibuk menyimak grup panitia di Line atau whats app. (Untuk sahabat fahima-KMII semoga Allah mudahkan program-program untuk umat selanjutnya). Dan keberuntungan yang lain adalah bisa mendengar langsung tausyiah, taujih dari ustad-ustadzah istimewa yang luas ilmu dan padat agendanya ketika di Indonesia.

-----

Terlalu manis untuk dilupakan, dan menjadi berat untuk ditinggalkan. Itulah yang kami rasakan dibulan dan mingu terakhir sebelum pulang. Semua yang biasa menjadi lebih bermakna, dimulai dari menjadi selalu mellow ketika perjalanan rumah-stasiun, status-status lebay di facebook ;p, memori iphone yang cepat penuh dengan foto-foto  peristiwa dan benda-benda sekitar, dimulai dari foto berbagai sudut rumah, bahkan bunga dipekarangannya >_<, klinik dokter anak langganan, TK dan SD si Kakak, kegiatan Fahira bersama teman-temannya, supermarket dan banyak spot yang lainnya. 

Agenda pun menjadi padat, dimulai dari packing yang tak kunjung selesai, walau sudah dicicil dari 6 bulan sebelumnya (whats? :D). Juga makin banyak kunjungan dan undangan perpisahan untuk kami, baik dari professor, senior dan teman-teman kampus suami, para tetangga Jepang, juga dari sahabat termasuk grup pakistan -smile-, dan kelompok pengajian serta organisasi. Meleleh, begitu banyak perhatian, limpahan kasih sayang, doa-doa yang dipanjatkan juga hadiah-hadiah yang diberikan serta dikirimkan. Padahal, selama ini justru kami lah yang banyak merepotkan ;'(.

Begitu juga dengan kakak Fahira, diakhir-akhir sekolah mendapat momen khusus dari guru, misal ada slot khusus foto bersama sekelas, menjadi pemeran utama saat pelajaran memasak kacang dan beberapa kegiatan lain. fahira juga banyak sekali mendapat surat perpisahan, hadiah dan foto dari Sekolah, tetangga dan teman-teman, baik teman Jepang maupun Indonesia.

Atas izin Allah bantuan selalu datang dari orang-orang pilihan, ketika memindahkan barang-barang besar terasa ringan karena dibantu trio pulmo aksis Hiroshima-Juntendo, duo Ooyata danchi plus duo Romeo Juliet :D. Bahkan di hari H saat harus meninggalkan rumah, (jujur walau sejak menikah kami sangat sering pindah, lebih dari 15 kali kayaknya, proses mengunci pintu terakhir unit 503 ini adalah momen paling berat), tak diduga bala bantuan datang lagi tanpa diminta. Membantu membereskan rumah, tetangga philipine yang bersedia dititipkan sampah yang banyak karena hari itu bukan jadwal membuang sampah, bantuan urusan serah terima kunci sampai mengantarkan ke hotel dekat bandara Narita. Speechless, Semoga Allah membalas kebaikan sahabat semua ;'(. 

Mengutip status facebook Abu Fahri : 

Semua orang-orang baik yang pernah berinteraksi dengan kami, mereka tidak pernah pergi dari hati kami.
Selamanya mereka ada dalam hati kami.
Sungguh kami mohon maaf jika kepergian kami terasa berat buat mereka. Berpisah dengan orang-orang baik itu terasa berat. Amat berat buat kami.
Sungguh, kami boleh saja tergantikan oleh orang-orang yang lebih baik dari kami. Namun percayalah, orang-orang baik ini tidak pernah tergantikan buat kami.

Ahabbakalladzi ahbabtani lahu” (Semoga Allah mencintaimu yang telah mencintaiku karena-Nya)


Monday, April 27, 2015

Tas Kremes v.s Tas Kresek



Beberapa waktu lalu saya pernah membaca tulisan Mbak Linda Djalil mengenai fenomena sosialita, dimana lambang kelas sosial dilihat dari suatu merk tas yang berharga sampai ratusan juta. Sebutlah salah satu merk ini dengan 'Kremes'. Ingatan saya melayang ke seorang ibu, yang pernah mampir ke Tokyo dalam rangka menemani suaminya yang di undang sebagai pembicara dalam seminar tentang komunikasi dan informasi di Jepang

Ibu ini bernama Sri Rahayu, istri Menkominfo Bapak Tifatul Sembiring. Ada suatu hal kecil yang bermakna besar untuk saya. Saat ibu Sri diundang oleh komunitas muslimah Tokyo untuk memberi tausyiah/ceramah di rumah salah satu sahabat muslimah. Yaitu, tas 'Kresek'. Saya bukan salah tulis, yang saya maksud benar-benar K.R.E.S.E.K. Bahkan saya masih ingat tulisan di kresek itu, nama salah satu nama supermarket di Tokyo. Dari tas kresek itu, Ibu Sri mengeluarkan barang-barang berharganya, yaitu buku dan iPad/tab. Saya tergugu dan terharu. Seorang istri menteri yang lazimnya tidak bisa diundang sembarangan, apalagi pengajian kecil ini. Seorang istri pejabat, yang mungkin jika menginginkan suatu barang termasuk tas, tinggal sebut merk kemudian dalam hitungan waktu sang ajudan akan segera mengantar.

MasyaAllah, sungguh tergetar sekali hati ini, di belahan sana perempuan Indonesia berlomba lomba koleksi tas-tas mahal bermerk, dimana tas Kremes (yang katanya KW paling murah bisa 19 juta rupiah) menjadi idola. Tapi apa yang saya lihat dari seorang Ibu Sri? Seseorang yang semestinya bisa lolos klasifikasi sosialita dengan mudah. Ternyata sungguh jauh dari kesan itu. Saat pandangan pertama saya mendapatkan tatapan mata nya yang teduh, ramah, murah senyum dan sederhana. Ketika memberi tausyiah, sarat makna dan dalam rasanya. Wawasan ke-Islam-an beliau luas. Dalam memberi pesan atau nasihat selalu mengulang-ulang, "... ini juga untuk mengingatkan saya pribadi..." Sungguh! beliau adalah daiyah sejati.

Tentu bukan bermaksud bahwa Ibu Sri tidak punya tas, tapi lebih kepada makna bahwa tas dan benda lainnya bukanlah sesuatu yang utama. Bukan suatu hal yang jika tidak bersamanya maka hilanglah kepercayaan diri. Bukanlah benda dimana jika tidak ada maka turunlah kelas sosialnya. Karena sesungguhnya semua akan diminta pertanggung-jawabannya. Jangan sampai, nanti di akhirat saat ditanya mengenai si Kremes, Bu'Berry atau Lusipitong (eh kok mirip nama saya? hehe) ini, kita tak mampu menjawab tentang apa manfaat barang-barang tersebut. Kita tak bisa berargumen bahwa benda-benda ini bermanfaat untuk umat, bahwa benda-benda dibeli karena kebutuhan bukan karena yang lain.

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu berkata, Rasulullah SAW telah bersabda, "Jika anak Adam meninggal, maka amalnya terputus kecuali dari tiga perkara, sedekah jariyah (wakaf), ilmu yang bermanfaat, dan anak soleh yang berdoa kepadanya.'' (HR Muslim).

Letakkanlah dunia diatas tanganmu bukan dihatimu. Menganggap semua hal dan kekayaan di dunia adalah bersifat sementara dan tidak perlu dikejar. Janganlah kita meletakkan dunia di dalam hati yang membuat kita menjadi manusia yang rakus dengan dunia. Kemewahan dan kebendaan menjadi cita-cita tertinggi. Sungguh suatu hal yang sia sia karena hidup kita di dunia hanya sementara, dan saat ajal pun tiba, tas kremes hanya tinggal cerita tanpa faedah.

Semoga Allah selalu merahmati mu Ibu..

*tentang si Kremes bisa dibaca disini link tas kremes 

Tuesday, April 14, 2015

Pengalaman sebagai Visiting Researcher di Atopy Research Center, Juntendo University


Alhamdulillah mendapat kesempatan berharga bisa menjadi visiting researcher selama satu minggu di Atopy Research Center, Departemen Dermatology and Allergology, Juntendo University. Di departemen post graduate ini ada 3 proyek penelitian, yaitu :

1. Clarification of roles of mast cells in the innate immune responses, dibawah supervisi Hiroko Ushio.
2. Mechanisms of allergic sensitization, dengan supervisor Toshiro Takai
3. Functions of antimicrobial (host defense) peptides in the skin immunity, dengan supervisor Francois Niyonsaba. 

Salah satu PhD Student grup Francois, dr. Chanisa meneliti tentang sel keratinosit, sel yang terdapat di epidermis, lapisan luar kulit yang mempunyai peran dalam penyakit dermatitis atopi. Penelitian ini menggunakan “Clean bench” yang memungkinkan setiap kegiatan dalam laboratorium senantiasa dalam keadaan steril dan mendukung terciptanya hasil yang baik.

Saya juga berkesempatan ikut dalam eksperimen grup Takai, yang menggunakan mencit khusus yang harga satu ekor nya mencapai lebih dari 30 juta rupiah. Dan tentu saja karena mencit ini dikembangkan tanpa daya imunitas, prosedurnya sangat mengutamakan faktor kesterilan. Untuk masuk ke ruang mencit, selain mencuci tangan kami harus menggunakan baju plus penutup kepala steril seperti astronot, tak lupa masker kaus kaki dan sandal, lagi-lagi harus steril. Ternyata tidak selesai sampai disitu, kami juga harus melewati satu ruangan tertutup, masuk satu satu, lalu akan ada sumber angin yang akan mengarah kepada badan kita, dan kita harus berputar. Mirip ruangan sensor yang biasa kita lihat di televisi. Prosedur yang dilakukan adalah menilai sensitisasi suatu alergen pada telinga mencit. Berupa perhitungan berapa millimeter penebalan telinga, setelah dipaparkan alergen selama fase tertentu.

Kemudian, sebagai salah satu bagian dari departemen pendidikan kedokteran, selain dibagian research saya juga sempat dua kali mengikuti konferensi klinik, seperti laporan jaga kalau di Indonesia. Jadi membahas kasus penyakit kulit baik di ruang perawatan ataupun IGD. Tentu saja dengan bahasa pengantar full nihon-go yang 80 persen tidak saya mengerti hehe. Yang saya lakukan adalah ketika ada yang presentasi satu kasus, langsung diam-diam searching mencari artikelnya dalam bahasa Inggris, agar bisa sedikit lebih mengikuti diskusi mereka.

Dan rangkaian magang ditutup dengan pemberian sertifikat oleh Professor Shigaku Ikeda, MD, PhD plus kenang-kenangan kaos Juntendo dari Juntendo International Center (JUIC)

Terima kasih Juntendo

with Miss Yanagi, yang sangat membantu proses administrasi
Bersama dermatologist, PhD student dari Thailand

Salah satu menu kantin yang murah meriah

Monday, April 13, 2015

Trick Art Museum Odaiba, Tokyo

Tiket Masuk

Salut dengan ide dan daya imajinasi para pembuat trick art museum ini. Dengan perencanaan matang dan kemampuan seni melukis dinding plus lantai yang mantap, bisa menghasilkan karya yang membuat jika difoto bisa memberi kesan seolah objek latar menjadi nyata atau hidup.

Ada beberapa trik yang saya amati
1. Sudut pengambilan foto, dari satu gambar bisa membuat dua atau lebih hasil yang berbeda.
2. Teknik memutar hasil foto pertama 90 atau 180 derajat, akan memberi efek yang fenomenal.
Posisi asli adalah berbaring disamping gambar, tapi ketika diputar 90 derajat akan membuat foto menjadi lebih hidup
 


3. Teknik pengaturan ruangan seperti cermin, adalah dengan membuat dua ruangan saling terhubung dan diatur sedemikian rupa sehingga mirip dan diberi batas hanya bagian bawah setinggi setengah kaki dan batas atas (atap). Sehingga membuat jika difoto dari satu sudut akan membuat hasil seakan menjadi seperti cermin. Padahal dua ruang ini memang tanpa dinding/kaca pembatas.


4. Pengaturan tata ruang, baik kemiringan lantai juga penggunaan sudut ruangan. 

 
Lantai miring, bagian kanan lebih rendah. Jika difoto dari luar ruangan akan membuat efek objek sebelah kiri menjadi lebih besar 
Berdiri diujung cermin, dengan tangan-kaki kanan diangkat 
5. Pemilihan tema lukisan, akan membuat hasil yang spektakuler
a. Tema mistis

 



Aslinya, si bapak masuk kedalam kotak yang bagian depannya dilukis sedemikian rupa menjadi mirip dinding belakang
b. Tema-tema 3 D lainnya

Lukisan dengan aktivitas jari, seakan menarik baju saya :)

Seakan meng-angkat tandu

Ini adalah favorit saya, seakan berdiri dalam gentong kayu :)
Terperangah bersama sahabat :p


Seru seru kan? :)

Sunday, April 5, 2015

Menikmati Kehangatan Sakura Dari Sudut Yang Berbeda


Sakura selalu menghangatkan. Dicintai oleh semua kalangan, tak hanya warga asing, penduduk Jepang pun sangat menanti si cherry blossom ini mekar sempurna. Hal yang sering dilakukan bersamaan dengan munculnya bunga ini adalah acara 'hanami', suatu ajang kumpul-kumpul di bawah pohon yang sedang penuh bunga sambil bercanda dan makan bersama. Hanami biasanya dilakukan disaat hari libur atau akhir pekan.

Hari ini saya secara tak sengaja berhasil mengamati berbagai lapisan kehidupan, berbagai kelompok umur yang menikmati bunga cantik ini dihari kerja.
Aktivitas dimulai dengan para pekerja, disela langkah kaki yang terburu waktu dipagi hari menuju stasiun atau tempat kerja. Kebanyakan masih menyempatkan untuk berhenti sebentar, mengambil foto sakura terbaik dengan telpon genggam masing masing. Entahlah, untuk koleksi pribadi atau akan dishare bersama teman di media sosial yang sedang hangat dimasa ini.

Anak-anak hoikuen (daycare) akan diajak jalan-jalan ke taman oleh para sensei. Berjalan beriringan dengan sesekali terdengar arahan sensei dan celotehan khas anak-anak. Yang berumur 2 tahun kebawah akan dibawa bersama dalam sejenis keranjang yang bisa didorong, ada yang sampai tertidur sambil berdiri ^^. Anak yang lebih besar akan berjalan kaki ramai-ramai dengan berpegangan tangan. Atau berpegangan dengan tali khusus yang hulu-nya dipegang oleh sensei (gambar dibawah). Lucu, tapi tertib. Dan ketika sampai di taman, mereka akan diberi kesempatan berlarian, bermain, sambil memungut kelopak sakura yang gugur kala tertiup angin. tak jarang mereka melaporkan ke sensei apa yang mereka dapat, entah itu bunga, ranting, daun berbentuk unik bahkan serangga, o iya mereka diajarkan dari kecil untuk tidak takut pada serangga, tentu saja yang tidak berbahaya.

Batita hoikuen yang baru pulang dari taman, ada yang tertidur :)
Berjalan sambil berpegangan pada tali dengan tertib
Kebetulan, sakura mangkai (full bloom) bersamaan dengan haru yasumi (libur musim semi) atau liburan kenaikan kelas. Sehingga anak-anak usia sekolah pun banyak yang menghabiskan waktunya di taman bersama teman-teman. Bermain, mengobrol dan makan bentou (bekal makan siang) bersama di bawah sakura. Semua bergembira.

Ada juga kelompok ibu-ibu dengan balita. Dan juga kelompok paruh baya sendiri atau berdua. Tak jarang ada kakek/nenek yang masih bisa mandiri, duduk sendiri di kursi yang disediakan. Atau ikut serta dalam barisan fotografer sambil membawa kamera DSLR yang keren, berlomba-lomba mengambil foto-foto dengan momen terbaik. Semua keluar rumah, tak mau kehilangan momen menikmati hangatnya sakura.

Dan saya  beruntung, jalan jalan kali ini saya bisa mendapat 2 momen khusus. Yang pertama adalah momen ketika rombongan bapak/ibu yang berkebutuhan khusus (kebanyakan penyandang sindrom down) dengan wajah cerah diajak berjalan-jalan oleh petugas dari kelurahan. Warga yang lain biasa saja, tidak ada yang berbeda. Ah iya, keindahan sakura pun milik mereka :)

rombongan dewasa berkebutuhan khusus
Momen kedua yang mebuat saya tak berhenti berdecak kagum. Ketika 1 mobil berhenti di dekat saya, dan turunlah para nenek, yang cukup renta.Tebakan saya semua dengan kisaran umur lebih 80 tahun. Ada yang masih bisa berjalan, tertatih dengan bantuan tongkat, dan ada yang sudah duduk di kursi roda. Untuk naik atau turun dari mobil, nenek tidak perlu turun dari kursi rodanya, karena mobil ini dirancang khusus sehingga bisa menurunkan kursi roda langsung, tanpa perlu diangkat-angkat. keren!.
Mobil khusus
Kegiatan diawali dengan foto bersama dengan latar bunga, kemudian diajak jalan-jalan santai, berkeliling taman bunga oleh petugas dengan perbandingan lansia:petugas, satu berbanding satu.
Lembut sekali para caregiver ini melayani, memegang tangan, wajah selalu tersenyum, sembari mengajak bercerita mengenai cerahnya hari ini dan cantiknya bunga yang berwarna warni. Dan para nenek pun tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih. Aaahh cerahnya wajah mereka. 
Ketika saya berpindah tempat, berpapasan lagi dengan 1 rombongan lansia lainnya, dengan kekhasan yang sama. Damainya..
Persiapan foto bersama
kelembutan para caregiver

Dan saya berharap diberi kesempatan kembali merasakan kehangatan sakura dan para penikmatnya ini lagi nanti, disuatu hari.

#menjelang 2 bulan back for good

Yang akan dirindukan